DENIAS

Candu Itu Bernama Pujian

8 Nov 2016 - 00:12 WIB

beritaumatAku bertanya kepada perokok, kenapa kamu merokok? Apa rasanya merokok? Hingga kau begitu setia dengan asap – asap dalam setiap waktumu? Bangun tidur kau merokok. Ke kamar mandi kau mengapit rokok. Selepas makan kau nyalakan rokok. Dalam meeting kau merokok. Dan dalam semua kegiatan seakan kau begitu setia dengan sebatang tembakau itu. Beragam rupa alasan yang terlontar dari mulut – mulut beraroma tembakau itu. Ada yang berkata rokok adalah hobi, rokok adalah lifestyle sampai ada yang bilang rokok adalah hidupnya. Rasanya ada yang kurang jika hidup tanpa rokok. Dari semua alasan yang aku dengar itu, ada satu benang merah yang nampakanya tepat merangkum semua alasan para perokok begitu setia pada batang – batang berisi tembakau itu. Bahwa dalam rokok terdapat candu. Dari sisi kedokteran semua sudah tahu bahwa candu rokok itu ada pada zat bernama nikotin. Zat yang sebenarnya terdapat ribuan racun di dalamnya. Satu zat yang sebenarnya, kapan dan dimana saja bisa membunuh para perokok.

Lalu aku kembali bertanya kepada para pemabuk. Kenapa kalian mabuk? Apa rasanya mabuk? Bukankah kata orang miras rasanya lebih pahit dari jamu apalagi yang namanya oplosan? Lalu kenapa masih saja kalian minum? Lagi – lagi beraneka macam argument meluncur dari mulut – mulut beraroma alkohol itu. Ada yang beranggapan miras adalah hobi, lifestyle, bahkan ada yang bilang miras adalah obat penawar segala kesusahan hidup. Karena dari setiap tegukan akan kau dapati hilangnya satu – persatu permasalahan hidup. Walau hanya sesaat! Ya walau hanya sesaat, merekapun tidak ragu mengatakan efek obat penawar kesusahan itu hanya sesaat. Dan lagi jawaban mereka mengerucut pada satu kata, candu! Mereka telah tercemar dan terikat oleh satu kata bernama candu. Hingga susah untuk dirinya keluar dari rasa candu itu. Hingga tidak jarang aku dengar nyawa mereka melayang bersama tegukan miras dan tidak pernah kembali lagi.

Akupun juga bertanya dengan mereka para pemakai barang haram bernama NarKoBa. Kenapa mereka mau berkawan dengan racun mematikan yang satu ini? hingga tidak jarang aku dengar mereka yang telah menjadi budak barang haram ini menghalalkan segala cara untuk terus berkawan dengan narkoba. Mencuri, menipu hingga kejahatan dengan kekerasan tidak jarang dilakukan menjadi dasar mereka yang berkalang candu narkoba. Candu, satu kata yang bahkan berefek pada orang lain bukan hanya pada mereka yang terjerat candu. Sudah tidak terhitung nyawa terbuang percuma oleh candu narkoba.

 

Kawan,

Candu, ya musuh manusia itu bernama candu! Begitu dahsyatnya candu hingga peradaban manusia bisa hancur olehnya. Mengerikan, sungguh mengerikan kawan. Dan sialnya candu tidak hanya merasuk dalam peradaban manusia lewat semua hal yang bersifat kebendaan seperti rokok, miras dan narkoba. Melainkan penyakit mematikan ini juga menyusup meracuni peradaban manusia lewat sendi – sendi kehidupan yang tidak kasat mata. Yang begitu nampak pada kehidupan manusia modern seperti kita saat ini adalah pujian. Pujian? Betul kawan! Manusia modern seperti kita sejatinya sudah terjangkit satu candu bernama pujian.

Sadar tidak sadar, suka tidak suka. Candu ini sudah begitu merusak peradaban manusia di abad millenium ini. Lihat saja betapa bangganya manusia seperti kita saat banyak like pada foto atau status dalam akun medsos kita. Beragam cara manusia lakukan untuk satu kata, pujian! Begitu mematikannya sifat ingin dipuji hingga tidak jarang kita saling sikut untuk menjadi yang terbaik di mata manusia hanya untuk satu pujian manusia lain.

Pemerintah beretorika di depan publik untuk pujian rakyatnya. Artis bermain drama di depan sorotan kamera hanya untuk pujian fansnya. Tokoh masyarakat bersandiwara dengan topeng kemunafikan juga untuk pujian pengikutnya. Kebohongan dan kepalsuan dilakukan mereka yang begitu miskin akan pujian manusia. Hingga tidak jarang dari mereka saling sikut untuk bisa menang dalam kontestasi pujian manusia. Memfitnah, mengintimidasi, memprovokasi halal dilakukan mereka yang ingin tampil paling baik, paling kuat, paling hebat di mata manusia. Hanya untuk satu kata. Pujian!

Kawan,

Inilah potret kehidupan kita hari ini, pujian adalah candu yang nyata untuk peradaban manusia modern seperti kita. Hingga tidak jarang satu negara hancur karena manusia – manusia di dalamnya begitu haus akan pujian.

 

Kawan,

Dan inilah yang membuatku begitu resah! Bahwa saat ini negeri tercinta pun sedang dilanda badai candu bernama pujian. Satu virus mematikan yang dalam sejarah sudah sangat banyak menghancurkan peradaban satu bangsa lewat perpecahan karena kegoisan manusia didalamnya hanya untuk mendapatkan satu kata. Pujian!

 

Salam hangat

 

Denias


TAGS   sosial /


Comment

Author

deniasfile@gmail.com

Recent Post

Recent Comments

Archive