DENIAS

Siluet Semu Ibukota

11 Nov 2016 - 05:18 WIB

Travel detik

Dalam hening, angin malam menyapaku. Desiran – desiran lembutnya seolah mengajaku untuk menari di sunyi dan senyap petang malam. Sekejap ketenangan merambat lalu menyusup masuk ke dalam relung batin. Membangun simfoni sunyi dalam hati. Ku pejamkan mata saat helaan napas penjang merasuk masuk hidung lalu merambati tenggorokan hingga akhirnya bersemayam dalam paru – paru. Ku bentangkan dua tangan untuk menyapa kesejukan angin malam. Hening waktu menyapa. Sesaat! Lalu keluar kembali saat mata ini kembali ku buka.

Dari atas balkon bangunan berlantai tiga aku menyapa hening denyut nadi Ibukota. Saat mata – mata para pencari rupiah terlelap pulas dalam mimpinya, mata ini menatap siluet kehidupan di remang malam. Satu siluet yang terlukis dari tinggi rendahnya bangunan Ibukota. Sejenak aku termenung. Lalu bertanya! Benarkah denyut nadi Ibukota berhenti saat malam menyapa? Bukankah masih ada kehidupan malam di kota besar seperti Jakarta? Ada perdebatan kecil disitu. Benarkah kesunyian ini nyata, atau ini hanyalah retorika angan yang terbuai desiran – desiran lembut angin malam? Aku tatap kembali siluet kehidupan yang tertampang jelas di depan mata. Dan ternyata! Relitas berkata lain, “masih ada kehidupan”.

Benar! Ada kehidupan disana. Tatapan mata ini tertuju pada satu apartement yang belum selesai di garap. Alat – alat berat masih saja bekerja, kerlap – kerlip lampu berwarna merah itu menyiratkan ada kehidupan di sana. Terus membangun satu siluet di satu titik kota ini. Lalu aku palingkan kembali pandanganku. Kali ini aku menatap cerobong – cerobong blower percetakan yang terus berputar. Meski pelan, suara mesin – mesin percetakan membentuk kontras nada tersendiri saat menyapa telinga. Disana pun ada kehidupan. Ada rupiah yang terus berputar dari setiap putaran cerobong blower itu. Kembali! Mata ini menangkap kehidupan, saat lampu sorot mengitari langit malam kota. Terangnya memberi kontras pada gelap langit Jakarta. Menyampaikan pesan ada mata yang juga masih terjaga di sana. Mata – mata yang terjaga untuk menjaga mata – mata lain yang terlelap pulas dalam mimpinya. Puas mengikuti terang lampu sorot, aku coba kembali mencari kehidupan di balik sunyi malam. Aku melangkah dan ku sandarkan tubuh pada pagar balkon. Ku tatap jalanan yang begitu lengang. Bola mataku menengok kiri – kanan jalan. Dan disana pun aku dapati sebuah kehidupan. Segerombol remaja sedang asik bercanda ria di satu sudut warung kelontong. Entah apa yang mereka bicarakan di tengah malam. Yang jelas mata – mata itu masih terjaga. Menjaga dan menemani malam kota.

Hingga aku tersadar akan satu realitas kehidupan. Bahwa kota ini tidak akan pernah tidur. Bahwa dalam remang malam, nadi metropolitan akan terus berdenyut. Meski terdengar pelan!  Namun hadirnya memberi kontras dalam siluet kehidupan kota. Satu siluet semu di tengah sunyi malam Ibukota.

 

 Salam Hangat

 

Denias


TAGS   sosial /


Author

deniasfile@gmail.com

Recent Post

Recent Comments

Archive