DENIAS

Tuhan, Ajari Aku Menjadi Kakak!

18 Nov 2016 - 09:36 WIB

Entah apa yang harus aku rasakan hari ini. Bahagiakah? Sedihkah? Marahkah? Atau justru sebenarnya hanya kehampaan yang sejatinya hadir menyelimuti relung kalbu, hari ini. Entahlah!

 

Aku melihat wajah – wajah ceria, sumringah, bangga juga bahagia terpancar dari mereka. Para orang tua, sahabat atau mungkin juga kekasih yang hadir menemani dan menyaksikan orang terkasih merayakan kemenangannya. Satu kemenangan dari sebuah perjalanan panjang merajut asa di bangku kuliah. Ucapan selamat, karangan bunga hingga kecupan mesra dari orang terdekat menjadi simbol satu kemenangan kawan – kawan seperjuanganku. Canda juga tawa menghias wajah para wisudawan/wisudawati di pagi yang cerah ini. Beragam cara mereka ekspresikan untuk merayakan kemanangan ini. Selfie hingga pelukan hangat mereka lakukan. Ya! Wisuda adalah kristalisasi sebuah perjuangan penuh cucur peluh keringat semua mahasiswa.

Tidak terkecuali dengan aku. Akupun begitu. Orang tua, adik juga kerabat begitu bangga padaku. Langit cerah balai Sudirman begitu serasi dengan suasana yang mengharu biru pagi ini. Mungkin wisuda adalah tradisi bagi mereka para keluarga yang lahir dari kalangan intelektual. Yang menjadi sangat lumrah jika menjadi suatu keharusan untuk dirayakan. Tetapi untuk aku juga keluargaku wisuda lebih dari sekedar tradisi yang harus di rayakan. Aku si sulung adalah anak sekaligus cucu pertama (baik dari keluarga ayah ataupun ibu) yang mampu memakai toga. Dan jujur aku katakan, akulah orang pertama di lingkungan kampung halaman yang berhasil wisuda. Tidak henti – hentinya do’a yang teriring dalam ucapan selamat menghampiri telingaku. Ada kebanggaan sekaligus harapan disitu. Harapan untuk bisa membuka satu tradisi baru di keluarga besarku. Tradisi yang menjadikan pendidikan sebagai pedoman hidup.

Wisudaku pagi ini tak ubahnya peletakan batu pertama dari bangunan cita – cita besar keluargaku. Entah sudah berapa kali sejak kemarin ibu mengatakan padaku, “ini baru awal, ini baru awal nang! Semoga adik – adikmu juga mampu memindahkan tali toga dari kiri ke kanan sepertimu”. Nanar mata ibu karena terlalu berat menahan air mata yang menggenang. Lain halnya dengan Ayah. Ayah yang memang pendiam tidak mengatakan apapun, tetapi dari antusiasnya menyiapkan ini itu, dan menjadi orang tersibuk dalam keluarga dengan berkali – kali menanyakan apa saja yang harus di persiapkan seolah ingin mengatakan “aku bangga, aku bangga padamu nang!” wajarlah, karena kerja kerasnya selama dua puluh emapt tahun membesarkanku tidak sia – sia dan terbayar lunas saat tatapannya melihat anaknya menaiki podium kehormatan para wisudawan. Dan memang begitulah ayah, dalam diamnya ayah selalu berbicara banyak hal. Bukan dari mulutnya namun ayah selalu berbicara lewat tindakan – tindakan nyata untuk aku dan adik – adikku. Ingin rasanya menangis saat Ibu bercerita bahwa ayah sampai membeli sepatu baru untuk di pakai di acara wisudaku. Tutur ibu dalam canda yang terbungkus dalam haru “tuh ayahmu sampai beli sepatu baru untuk acara wisuda nanti, katanya mau jadi orang kantoran sekali – kali. Sampai dia tanya berkali – kali sama ibu harus pakai jaz juga ndak? Ya ibu bilang anakmu ndak nyuruh. Pakai batik yang sudah di pesan saja.” Semalam.

 

Entah apa yang harus aku rasakan hari ini. Bahagiakah? Sedihkah? Marahkah? Atau justru sebenarnya hanya kehampaan yang sejatinya hadir menyelimuti relung kalbu, hari ini. Entahlah!

Pagi yang cerah dalam suasana bahagia berubah menjadi panas seiring terik mentari yang menyengat tubuh anggota keluargaku. Terutama satu adikku. Dikarenakan hanya dua orang perwakilan undangan wisuda yang diperbolehkan masuk untuk mengikuti acara pelantikan wisudawan maka dengan terpaksa anggota keluargaku menunggu diluar selain ayah dan ibu. Sejujurnya aku juga tidak mau keluargaku menunggu diluar berkawan terik mentari. Namun apa boleh buat, hanya dua orang perwakilan yang diperbolehkan masuk dalam gedung. Dan terus terang saja, di momen yang begitu bahagia ini tidak sedikitpun niat untuk membuat orang lain jengkel karena terlalu lama menunggu. Andai saja aku yang membuat peraturan, maka semua anggota keluarga akan aku persilahkan masuk. Tanpa terkecuali.

Entah apa yang terjadi diluaran sana, sehingga di tengah – tengah acara wisuda. Aku harus keluar dan bimbang karena ulah yang jujur sangat menjengkelkan. Tidak adakah sedikit saja rasa empati untuk aku yang sedang merayakan wisudaku sendiri? Ataukah memang aku yang terlalu egois dengan urusanku sendiri? Tetapi bukankah semua wisudawan dan wisudawati yang hadir juga sepertiku. Mengikuti prosesi pelantikan ini hingga selesai. Apakah aku harus pulang saat acara memang belum sepenuhnya selesai. Saat aku belum mengucapkan janji wisudawan? Siapa yang harus mengalah? Siapa yang harusnya mengerti? Siapa yang harusnya menghargai? Siapa? Entahlah! Yang jelas suasana mendadak begitu menjengkelkan oleh ulah satu orang yang jujur saja aku katakan jauh dari kata dewasa

 

Entah apa yang harus aku rasakan hari ini. Bahagiakah? Sedihkah? Marahkah? Atau justru sebenarnya hanya kehampaan yang sejatinya hadir menyelimuti relung kalbu, hari ini. Entahlah!

Jujur saja, aku tidak butuh dihargai dan dimengerti. Tapi setidaknya hargailah orang tuaku yang juga orang tua dia. Mereka sedang berbahagia. Haruskah dinodai dengan sikap kekanak – kanakannya? Aku mengerti, sangat mengerti. Bahwa menunggu adalah hal yang paling membosankan. Tetapi bukankah yang lain juga rela menunggu?

Terus terang saja, aku tidak akan mengemis untuk dianggap kakaknya. Karena memang mungkin aku bukan sosok yang pantas menjadi kakaknya. Tetapi haruskah dia juga tidak menganggap dua orang yang telah membesarkannya sebagai orang tua? Dengan sikap arogan dan culasnya? Membatu dalam diam dan tidak mau mendengarkan perintah orang tua. Kalau memang bosan menunggu, ya pulang saja! Atau tidak usah ikut dari awal. Rasanya itu lebih fear buat aku dan dia. Jangan mengacaukan acara dan suasana bahagia orang tua dengan sikap egoisnya itu.

Entah apa yang harus aku rasakan hari ini. Bahagiakah? Sedihkah? Marahkah? Atau justru sebenarnya hanya kehampaan yang sejatinya hadir menyelimuti relung kalbu, hari ini. Entahlah!

Aku tidak tahu setan apa yang sudah merasuki dia. Hingga malam tiba sikapnya masih sekeras batu. Bukankah inginnya untuk pulang sudah terkabul? Bukankah kegoisannya sudah menang? Lalu kenapa masih saja dia tega membuat ibu menangis karena keegoisannya itu? Hingga hal kecil seperti makan saja masih harus diributkan? Jika memang acara wisudaku adalah masalahnya cukuplah aku yang dia diamkan bukan ibu juga ayah. Mereka tidak sedikitpun salah. Bukankah sangat wajar jika orang tua bahagia di hari kelulusan anaknya? Lalu kenapa masih saja dia membuat ulah saat acara memang sudah selelsai.

Kalau memang wisudaku masalah buat dirinya, aku meminta maat. Kalau memang wisudaku beban buat dirinya, aku meminta maaf. Tetapi satu hal yang aku tidak bisa maafkan. Dia sudah buat ibu menangis sakit di hari yang seharusnya penuh suka cita. Aku tidak bisa memaafkan saat dia membuat ayah murung dihari yang seharusnya menyenangkan hati ayah. Aku tidak bisa. Tidak bisa.

 

Tuhan, kalau memang aku sumber masalah di hidupnya. Tolong ajari aku menjadi seorang kakak yang benar!

Tolong Tuhan! Tolong!!!


TAGS   sosial /


Author

deniasfile@gmail.com

Recent Post

Recent Comments

Archive